Penyokong Kesiapan Lampung Jadi Pusat Pemerintahan RI

 45 Dilihat

Bandarlampung, mediamerdeka.co-Secara mikroanalisis, relativitas gerak maju pelaku ekonomi digital di Lampung, peluang, dan kendalanya dalam turut mematangkan kesiapan Provinsi Lampung sebagai salah satu kandidat alternatif pusat pemerintahan RI hingga tenggat akhir tahun ini turut jadi pertimbangan penting Panitia Kerja (Panja) FGD DKI Lampung dalam mempertajam pisau analisis kajian ilmiahnya yang akan diserahkan pengusulannya kepada Kemen PPN/Bappenas RI.

Dr. Andi Desfiandi Alfian, S.E, M.A, analis ekonomi digital yang juga inisiator FGD DKI Lampung, Jumat (22/9/2017), dalam siaran persenya, mengatakan target menjadikan Indonesia pusat ekonomi digital ASEAN di 2020 memiliki daya dukung bonus demografi, bahkan hingga momentum 100 tahun Indonesia Merdeka di 2045. Di mana, kata dia penduduk Indonesia terbesar populasinya di ASEAN dan mayoritas berusia produktif. Juga karena anak muda Indonesia sangat kreatif merespons dinamika digitalisasi ekonomi dunia.

Hal itu, kata Andi, terbukti banyaknya perusahaan e-commerce dan market place karya anak bangsa yang mendulang sukses. “Lahir dan suksesnya aplikasi daring seperti Bukalapak, Tokopedia, Lazada, Go-Jek, Tokopedia, Blanja.com, dan sebagainya, bukti anak bangsa ini mampu memelopori rintisan kelahiran jutaan pelaku usaha ekonomi digital baru lainnya. Apakah itu seiring digitalisasi relasi sosial melalui kemerdekaan media sosial yang banyak diklaim sebagai pilar kelima demokrasi,” kata Andi.

Menurut dia, seperti diketahui Indonesia pasar terbesar end-user jejaring media sosial Facebook, WhatsApp, BBM, Twitter, Instagram, dan lain-lain. “Atau memang sama sebangun dengan kebutuhan belanja ekonomi rakyat yang makin menuntut totalitas prasyarat cepat, tepat, akurat.

Kualitas kemampuan melayani dari jutaan pelaku ekonomi digital ini nyata disadari telah andil besar menggerakkan roda perekonomian. Semua berproses mengikuti kebutuhan pasar.” Bayangkan, kata dia, di 2015 saja nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai Rp300 triliun dengan kenaikan rata-rata 40 persen per tahun. Revolusi start-up.

Hal ini, kata dia, merupakan aset bangsa. Di mata ketua Yayasan Alfian Husin, yang concern di bidang pendidikan, kesehatan dan hukum sejak berdiri 1995, secara elementer pemerintahan Presiden Joko Widodo terlihat sungguh-sungguh memperhatikan dan mendorong tumbuh kembang ekonomi digital sebagai salah satu tulang punggung ekonomi masa depan.

“Kini sudah ada 1500-an perusahaan start-up yang live in dan menjadikan Indonesia sebagai negara pengampu korporasi start-up terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India,” kata Ketua yayasan yang membawahi Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, SD Islam Terpadu Pelangi, Sekolah Darma Bangsa, Pondok Pesantren Annida, Darmajaya Corporation, RSIA Belleza dan LBH Darmapala ini,

Lebih lanjut, pria low profile yang juga Ketua Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) Komisariat Daerah Lampung ini mengatakan negara benar-benar hadir membangun tatalaksana ekonomi digital ini, bahkan hingga skala industri kecil menengah (IKM).

“Kita patut bangga, pemerintah jeli sekali baik melalui kementerian/lembaga (K/L), skema BUMN bahkan BUMD. Sampai melibatkan swasta lokal maupun asing dalam merekonstruksi kapasitas infrastruktur dan juga ekosistem ekonomi digitalnya. Tren positif pertumbuhan pelaku start-up baru secara massif pun tak luput dari stimulan negara,” kata dia.

Tak ayal, kata Andi, fenomena ekses Revolusi Industri keempat ini memaksa raksasa ekonomi digital dunia seperti Alibaba, Tencent, Amazon dan lainnya atur strategi khusus dan agresif untuk lakukan long-term investment di Indonesia. Wakil Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Lampung ini, secara garis lurus, dengan berbasis pada best will negara dan seluruh komponen bangsa utamanya generasi milenial.

“Hal ini merupakan tantangan baru sekaligus peluang emas Indonesia untuk bisa menjadi pemain utama ekonomi digital dunia dalam waktu tak lama lagi,” kata pria berdarah Lampung-Minang, yang juga pengurus Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Indonesia (APPTI) ini.

Bagaimana dengan Lampung? Andi optimis, sebagai salah satu daerah bergeopolitik strategis dan tak lagi berlaku fatalis dengan hanya mengandalkan diri jadi zona transit Sumatera-Jawa dan sebaliknya. Menurut dia, Lampung sangat potensial untuk menjadi salah satu pusat ekonomi digital di Indonesia. “Indikatornya surplus. Infrastruktur jaringan internet sudah cukup baik, zonasi jalur backbone pendukung program Indonesia Digital 2020 juga mayoritas sudah ‘hijau’,” kata dia.

Selain itu, natalitas pelaku ekonomi digital tinggi angka sekaligus tinggi peminat, dukungan sistemik pemerintah daerah, serta jangan lupa. Kemudian,  kesiapan sumber daya manusianya yang ultradinamis, mungkin buah manis status Lampung sebagai miniatur Indonesia juga. “Dan, serapan nilai-nilai kearifan lokal yang taken for granted jadi potensi unggul sekaligus benteng terakhir efek negatif digitalisasi ekonomi itu sendiri,” kata dia.

Andi juga memprediksi, selain sektor pariwisata, potensi SDM sektor ekonomi lokal Lampung akan terus tumbuh agregatnya bak cendawan di musim hujan. “Ini modal dasar yang sesuai relnya. Investasi sektor industri kreatif dan ekonomi digital akan bersinggungan positif sejauh daya dukung pembiayaannya terkapitalisasi. Hindari budaya instan, jaga muruah kearifan lokal. Jangan gengsi, dan jangan cepat berpuas diri, ini kata kunci success story ekonomi digital baik di Lampung juga nasional. Bagi kelas menengah, inilah lumbung uang dan ladang amal,” kata dia

Berita Terkait

Rakor Penyaluran Pupuk Bersubsidi 2021, Wagub Chusnunia Minta Segera Atasi Keluhan Pupuk di Kalangan Petani

 436 Dilihat Bandarlampung ( Mediamerdeka)—— Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik) minta jajarannya mengecek keluhan pupuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *